Showing posts with label Jalan Panjang. Show all posts
Showing posts with label Jalan Panjang. Show all posts

Wednesday, July 18, 2007

Listrik Padam

Selasa sore, 17 juli 2007, begitu jam kantor menunjukkan pukul 17.00 wib, buru-buru aku tenteng tas ransel yang biasa aku bawa ke kantor. Aku ingin mengakhiri aktifitas di kantor, dan segera merebahkan badan di kasur kos2an seraya melihat berita sore di televisi yang selalu kuupdate.

Tapi sayang, begitu membuka pintu kamar,,, huffhfff..panas banget. Ketika ingin kunyalakan kipas angin dan penyedot udara di kamar, ternyata listrik padam. Aduh,,,mpe kapan nie, pikirku,,,

Setelah kutunggu, magribpun terlewati dan hingga pukul 18.40 tidak ada tanda-tanda mengenai kapan listrik akan menyala lagi. Karena di kamar panas banget, iseng-iseng aku nongkrong di halte Pasar Festival.

Sebenere sie kepikiran juga untuk maen ke kos Irfan or m'Budi, itung2 silaturahmi. Tapi ntar dulu dech, mungkin sebentar lagi nyala,,,

Setelah puas menyaksikan orang-orang dengan kesibukannya masing-masing, kulanjutkan langkahku menuju warung nasi penyet di deket Kedutaan Rusia. Lalu aku mesen ayam penyet aja, dan makan dengan keringat yang biasa keluar ketika aku kepanasan.

Dalam perjalanan pulang, kupikir kembali ide tentang maen ke tempat irfan. Begitu sampai di kos, langsung ku telpon dia, dan ternyata dia ada di kos2an.

Langsung deh aku berangkat ke kosannya di daerah Tebet. Gak tau juga ya kenapa kalo tidur tuh aku harus pake kipas angin, padahal kalo bangun di pagi hari kedinginan. Ya itulah yang memaksaku untuk menginap di kos Irfan.

Sesampainya di sana, ternyata ada adeknya Irfan dan temannya yang sedang magang di Trans TV. Akupun dipersilahkan masuk ke kamarnya.

Kira-kira jam 23.30 abang telpon kalo listrik sudah normal, dan aku pun tidak berani untukpulang kembali ke kos, karena angkot sudah habis. Jaang-jarang kan nginep di tempat temen.

Pagi-pagi aku langsung pulang karena jam 8 harus berangkat ke kantor...
Semoga tidak terjadi lagi yach,,,

Tuesday, May 22, 2007

Menaklukkan Puncak Lawu



Tak pernah direncanakan sebelumnya, baik oleh aku maupun kawan-kawan yang akan naik ke Gg. lawu dengan aku, yaitu Taufan, Hari Kasino maupun Wawan Dongkrak. Semua bermula dari chating antara aku dan kasino di hari Rabu, 16 Mei 2007.

Karena hari kamisnya mo libur panjang sampe ahad, iseng-iseng kuajak kasino naik Gunung, terserah mau kemana yang penting refreshing kataku. Kasino menyuruhku untuk menghubungi Taufan dan Dongkrak, kira-kira mereka bersedia ikut apa gak. Gak pake lama lagi, langsung aku kontak mereka berdua dan mereka menyatakan siap, tapi naik ke Gg. lawu saja, ok deh kataku. Kemudian kukabari lagi Kasino dan semuanya langsung siiipp..

Jam 16.30 aku berusaha untuk pulang lebih cepat, karena aku yakin pasti kereta api bakal penuh sesak oleh orang-orang yang ingin berlibur panjang. Sesampainya di stasiun senen beneran tiket dah habis, ya akhirnya tanpa tempat duduk deh,,, Alhamdulillah sampai juga di rumah jam 3 pagi (17/05/07).

Begitu jam menunjukkan pukul 9 pagi, aku pamitan sama yahbunda untuk pergi ke Solo guna menuntaskan obsesiku yang lama terpendam. Kutancap gas motorku memulai touring ke Solo. Nikmat juga, dah lama gak naik motor jarak jauh.

Pukul 2 Siang aku dah sampai di Solo, tapi anak-anak masih pada makan-makan di Njanti, si Pinky lagi Ultah, akhirnya kususul dulu ke sana skalian menikmati ikan bakar yang tersisa. Sesampainya di Pabelan, persiapan segera di mulai. Mendaftar bahan makanan yang akan di bawa dan meminjam peralatan di Assalaam.

Tepat pukul 9 malam persiapan dah kelar, tinggal berangkat saja. Namun ternyata cuaca sedikit tidak bersahabat, hujan deras menimpa Solo hingga jam 11 malam. Setelah reda, dengan berkendaraan dengan motorku (yang ternyata lupa bawa STNK) dan motornya kasino, gerimis kota Solo kita jalani bersama.

Alhamdulillah, jam 1 dinihari tanggal 18/05/07 kami sampai di Base camp Cemoro Sewu. Dingin banget, meskipun hujan sudah reda. Nampak di masjid adek2 dari Assalaam juga bersiap untuk naik, namun tertunda karena terhalang hujan. Kamipun berencana naik sehabis makan pagi, pagi ini istirahat dulu sambil nyesuaikan kondisi alam.

Jam 7.30 setelah minum kopi dan sarapan soto ayam, kami pun memulai perjalanan ini. Aku sie rada pesimis dengan kondisiku yang sudah 2 tahun gak menjamah pegunungan lagi, sehingga aku meminta untuk membawa tas yang paling kecil, tapi tetap saja berat. Memang sie, diawalnya kerasa banget kalo naik gunung tuh berat, namun berhubungan aku belum pernah menaklukkan Lawu semangat harus dipompa.

Pengennya sie membawa tas paling kecil, tapi Dongkrak juga kelelahan, jadinya gantiin bawa tas yang besar deh... lumayan juga kok kalo dah terbiasa, agak ringan dikit..

Pos 1 terlewati, namun pos 2 kok lama nian ya,,, baru nyampe pos 2 tuh jam 12 siang pas waktunya Sholat Jumat. Baru istirahat sejenak, datang beberapa rombongan dari Jakarta dan tak berpa lama kemudian turun hujan deras. Sambil nunggu hujan kami mempersiapkan makan siang.

Setelah hujan reda, perjalanan dilanjutkan kembali. Aku ma Kasino berusaha santai, sampai-sampai tertinggal jauh dari Dongkrak ma Topan, dah begitu HTnya gak dihidupin jadi takut sendiri. Hari itu dah sore sekitar jam 5an, dan ternyata Kasino sakit perut, alias mencret, jadi dia lemes banget. Sampai2 dia minta izin tuk tidur sebentar, padahal mentari sudah beranjak ke barat, dan dinginnya sore itu memaksaku tuk memompa semangat Kasino agar tetap melanjutkan perjalanan yang tinggal sebentar lagi.

Ada pertanyaan dari Kasino yang sampai sekarang sangat menggelitik, " Aku manja ya, Bang?". Aku mau ketawa, tapi kok juga bingung, coz dah sepi banget gak ada orang. Aku kedinginan dan jaketku ada di tasnya Dongkrak, jadi takut kena hipotermi. Bahkan aku sampai membayangkan musibah yang pernah dialami santri-santri dari pondok Ngruki pada tahun 90-an, yang nyasar di Lawu, kemudian beberapa dari mereka meninggal dunia, dan beberapa ditemukan dalam keadaan yang darurat.

Alhamdulillah, kira2 jam 6 sore, kami sampai di Pos 5. Ternyata di sana ada seseorang yang sedari jauh menyenteri kita, sampai aku harus menutup mataku pake tangan. Ternyata seorang bapak-bapak yang mendapat pesan dari Topan dan Dongkrak. Kemudian bapak itu bertanya, "masnya berdua yang bawa HT ya?", " dari tadi dah ditunggu temannya disini mas, sekarang mereka nunggu di warung atas". Setelah mengucapkan terima kasih, kamipun segera melanjutkan perjalanan, karena jarak warung dengan pos 5 tidak begitu jauh.

Alhamdulillah lagi, akhirnya kami berdua sampai di warung tersebut, dan Dongkrak ma Topan menunggu dengan gelisah. Setelah mengobrol sebentar, akhirnya kami sepakat malam ini tuk menginap di warung saja, mengingat kondisi Kasino yang kurang enak badan dan kedinginan.
Akupun sepakat saja, meskipun pernapasanku agak terganggu dengan pembakaran yang ada di warung, karena memang warung tersebut tidak berventilasi.

Tak terasa, jam 5.15an kami dh bangun tuk mempersiapkan diri mendaki ke Puncak Hargo Dumilah. Kasino yang kukira gak bakal ikut, karena memang sengaja dah ditinggal, langsung berlalri keluar warung mengikuti langkah kawan2nya. Dan tak berapa lama kemudian kamipun sampai di Puncak Lawu. ALhamdulillah,,,,

Setelah beberapa lama kami mengabadikan momen di Puncak, kamipun segera turun ke warung dan berkemas untuk meninggalkan puncak segera. Sungguh senang sekali rasanya, akhirnya aku mampu menaklukkan puncak lawu, setelah sekian lama menunggu.

Perjalanan pulang, meskipun tak sepayah waktu naik, namun karena aku hanya memakai sandal japit, maka hentakan dari kaki melawan batu2 terjal sangat terasa sekali sakitnya ditelapak kakiku, makanya aku berusaha untuk sesegera memungkin mengakhiri penderitaan ini dengan berjalan cepat meninggalkan yang lain dibelakang.

Ternyata ketika aku tidak seberapa lama menunggu di Pos 2, mereka juga muncul. Akhirya kami berjalan beriringan menuju Base Campe di Cemoro Sewu. Dan pukul 2 siang kami sudah sampai kembali di Base camp dan siap tuk melanjutkan perjalanan ke Solo dengan sepeda motor yang kami bawa.

Terima Kasih tuk Kasino, Topan dan DOngkrak yang sudi menemaniku menaklukkan Puncak Lawu, Hargo Dumilah. Semoga di lain waktu kita bisa menaklukkan Puncak Rinjani ya,,,, itu kan yg kita pikirkan waktu di Lawu,,,

Monday, May 7, 2007

Mancing di Bagang

Hmm...sungguh tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku bahkan abangku untuk bisa memancing ikan di laut Jakarta, apalagi di tengah laut yang kalo di tempuh dengan kapal motor kira-kira memakan waktu 1 jam 30 menit, jarak yang cukup jauh untuk hitungan perjalanan laut.

Rencana memancing ini muncul ketika si Agus (Singkek) pulang dari rumah saudaranya di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Dia mengatakan telah membicarakan dengan saudara keinginannya untuk memancing di laut, entah itu akan di empang or di bagang.

Tepatnya hari sabtu, 5 Mei 2007 kemaren, Kami (aku, abangku (opunx) n Singkek) berangkat ke daerah cilincing di mana saudaranya Singkek tinggal. Perjalanan dengan busway dari Kuningan menuju ke Pantai Ancol berjalan dengan lancar, namun tak kami duga bahwa setelah dari Ancol kami harus naik angkot lagi hingga 3 kali berganti nomor, dari mikrolet M.15 - bus kopaja 23 dan terakhir angkot warna merah no.5.

Dalam perjalanan aku masih terus berpikir, ini Jakarta apa bukan ya? setauhuku yang sehari-harinya hidup di daerah Kuningan dalam bayang-bayang gedung-gedung pencakar langit memandang Jakarta dengan gedung-gedung tingginya, namun di daerah yang aku lewati lain, bangunan paling tinggi itu ya ruko berlantai 3 lah, bahkan yang paling tinggi adalah tumpukan kontainer hingga 7 kontainer menjulang ke angkasa.

Begitu menginjakkan kaki di rumah saudaranya Singkek, bau khas pantai mulai menusuk hidungku, sehingga butuh sedikit perjuangan untuk beradaptasi. Kucing-kucingan berkeliaran dari yang terawat hingga hancur berantakan,,,, hmmm... melihat anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki melewati lorong-lorong sempit rumah mengingatkanku akan masa kecil di rumah dulu.

Kira-kira pukul 2 siang segala perlengkapan untuk memancing telah terkumpul, namun belum terpasang dengan rapi sehingga butuh beberapa menit untuk merapikannya sebelum kita berangkat sesuai jadwal jam 3 sore. Tak lupa aku pergi ke warung untuk membeli beberapa botol air mineral dan beberapa bungkus roti serta cemilan dan rokok. sedangkan Singkek menyiapkan lauk-pauk dan nasi untuk makan malam kami di bagang.

Pak Oni sebagai nahkoda pun berteriak memanggil para ABk, untuk segera menaiki perahu karena jangkar akan segera ditarik. dengan bergegas kami pun langsung melompat ke perahu yang berukuran sedang.

Perjalanan dimulai dengan menyusuri sungai di muara cilincing. Ketika sampai di dermaga bongkar muat, kami berpapasan dengan kapal tongkar yang sangat besar, hingga air sungai menjadi keruh, mungkin tongkang tersebut menyapu lumpur yang ada di dasar sungai itu ya,,,, ngeri juga...

Wah, akhirnya kami memasuki daerah lepas pantai. Air lautnya masih keliatan berwarna coklat, namun ombak belum begitu besar. Kegembiraan menyelimuti wajah-wajah kami, tak lama lagi impian akan memancing di laut akan kesampaian. Setelah kira-kira satu jam perjalanan, ombak mulai menerjang perahu, goyangannyapun mengingatkanku ketika naik sebuah permainan "ombak banyu" di pasar malem waktu kecil dulu. Naik - turun dan begitu seterusnya perahu dihajar oleh ombak dengan terpaan angin yang cukup kuat.

Selang beberpa menit, terlihat banyak patok-patok bambu kokoh berdiri bekas tempat bagang berdiri dan sudah tidak dipergunakan lagi. Dan didepan terlihat sebuah kapal nelayan juga yang memuat beberpa orang pemancing. Tak jauh dari situ terlihat Bagang milik Pak Oni yang bakal menjadi sandaran perahu kami.

Di bagang yang berbentuk persegi empat dengan susunan konstruksi dari bambu inilah yang akan menjadi tempat kami bermalam selain perahu kecil yang juga digunakan sebagai tempat untuk memancing. Dengan sigapnya si Alung membantu Pak Oni memasang tali tmabatan perahu ke tiang bambu bagang. Tak kalah dengan si ALung, Pak Oni dengan gagahnya membawa keranjang-keranjang dan tempat petromks yang berbentuk persegi panjang berisi 7 buah petromaks. Sungguh kekuatan yang luar bisa untuk mengakat barang sebegitu besar dan menaiki bagang yang tingginya mencapai 5 meter tersebut.

Setelah matahari terbenam, persiapan memancing pun di mulai. Sesaat setelah kail memasuki air, terasa adanya sedikit "gondolan" dan akhirnya aku dapat 2 ikan kecil-kecil, begitu juga dengan yang lain. Namun seiring waktu, aku tidak dapat menahan pusingnya kepala akibat goyangan perahu oleh ombak laut. Akhirnya aku menyerah dan naik ke bagang untuk menenangkan diri.

Hingga fajar menjelang, perolehan ikan kami dan Pak Oni ternyata tidak seperti dugaan sebelumnya, artinya kondisi laut di situ lagi sepi ikan, sehingga hanya dapat sedikit. Tapi tak apalah, yang penting pengalaman berharga yang kami dapatkan tuk pertama kalinya memancing di tengah laut. Juga bagaimana rasanya harus menghargai para nelayan yang harus menerjang ombak dan badai di laut hanya untuk mencukupi kebutuhan protein kita. Semoga segalanya membawa hikmah bagi kita.

Friday, March 9, 2007

Naik BusWay Euy...


Sejak diopersikannya pada tanggal 27 Januari 2007 yang lalu, ini kali pertama aku mencoba busway jalur Buncit-Manggarai (kalo jalur lain mah pernah naik).

Halte busway yang setiap pagi biasanya kulewati, karena aku juga harus menyeberangi jembetan penyeberangan di depan Gedung Centra Mulia Menuju Halte Pasar Festival, kali ini aku masuki untuk mencoba busway ini.

Sebenarnya sie kalo dipikir-pikir lebih irit naik bus biasa 66 yang cuman 2 ribu rupiah dan langsung nyampe di Jembatan Penyeberangan Patra Jasa. Berbeda sekali dengan busway yang selain harganya lumayan lebih gede Rp. 3.500 tapi aku harus turun di Halte deket Kantor Kejaksaan Tinggi, kemudian nyebrang ke Gatot Subroto dan melanjutkan perjalanan dengan bus yang menuju ke arah semanggi.

Yach, namanya juga nyoba ngitung waktu tempuh dari kos ke kantor, cepetan mana sie naik bus biasa ma busway??

Ternyata sie memang cepetan busway untuk itungan jarak dari Pasar Festival sampe Gatot Subroto, cuman gak terhalang macet seperti bus biasa yang sudah terhenti sejak dari Hotel Grand Melia.

Namun, ternyata tadi pagi aku gak cuman nyoba naik busway, tapi juga mencoba berjalan dari perempatan Gatot Subroto menuju kantor, lumayan berkeringat sie....hahaha...

Besok mo nyoba lage gak ya???

Thursday, March 8, 2007

Sport'ifitas' KehiduPan


Tadi pagi telah muncul tim-tim yang bakal bertanding pada partai perempat final Liga Champions Eropa. Klub dari Liga Premiere Inggris mendominasi dengan 3 team (2 meraH & 1 biru), kemudian Liga Italy ada 2 klub dan selanjutnya Spanyol, Jerman dan Belanda hanya diwakili oleh satu klub besar.

Perebutan gelar juara Liga Champions menjadi adu gengsi diantara klub-klub besar di Eropa untuk membuktikan bahwa team di klubnyalah yang terbaik dalam ranah Eropa. Dengan ditonton oleh jutaan mata dari seluruh penjuru dunia, keuletan dan skill yang dimiliki setiap pemain dikeluarkan dengan sebaik mungkin untuk menyajikan hiburan yang menarik dan juga untuk mendongkrak harga dari tiap-tiap pemain itu sendiri.

Dua klub besar yang pada tahun 2005-2006 telah menjajal putaran final Liga Champions (Arsenal "The Guners" dan Barcelona) harus tersingkir lebih dahulu. Sungguh menyakitkan kalau harus tersingkir hanya karena kalah agregat tandang, seperti yang dialami oleh Barcelona saat melawan Liverpol.

Dalam permainan pasti akan muncul Pemenang. Kemenangan dan kekalahan menjadi hal yang biasa terjadi, sehingga dibutuhkan mental yang kuat untuk dapat menghadapinya, karena tidak semua team memiliki mental seperti itu, seperti perkelahian antar pemain Valencia vs Inter Milan.

Bahkan klub paling kaya pun dan bertabur bintang "Los Galacticos" Real Madrid tidak berdaya untuk dapat meraih gelarnya di Liga Champions, bahkan di Liga Domestikpun mereka bagaikan pecundang. Dalam pepatah dikatakan bahwa "ALHAQQU BILA NIDHOMIN GHULIBATIN BA'THILU BI NIDHOMIN". Jadi, mau seberapun besar dan tenarnya klub, tapi tanpa managemen yang bagus pasti akan ditumbangkan dengan klub-klub kecil yang dibina dengan managemen yang handal.

Sportifitas tidak hanya berlaku dalam dunia sport belaka. Dalam kehidupan pun kita harus menyadari bahwasanya persiapan untuk bertempur dan menghadapi kekalahan harus dipersiapkan dengan matang sebelum kita melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah. Seorang yang hebat adalah seseorang yang bisa bangkit dari kegagalan, bukan orang yang terus merenungi kegagalannya itu.

Wednesday, March 7, 2007

Bencana Lagi nie...hiks..hiks...


Sejak awal tahun 2007 ini, ntah kenapa Indonesia dirundung bencana yang berkepanjangan, bahkan menewaskan ratusan orang. Diawali dengan hilangnya pesawat Adam Air jurusan Jakarta - Manado, Kemudian tenggelamnya KM Senopati di Laut Jawa, terbakarnya KM Levina di Perairan Pulau Seribu plus tenggelamnya beberapa Jurnalist yang ingin meliput KM Levina bersama dengan bangkai kapalnya (Alhamdulillah Abangku hari itu libur, jadi gak ikut liputan) dan pada selasa pagi (07/03/07), tepatnya pukul 10.15 terjadi gempa di Padang, Sumatera Barat, dan yang paling aktual pagi ini, Rabu tepat pukul 06.50 Pesawat Garuda Indonesia Airlines (GIA) terbakar habis di Bandara Adi Soecipto, Yogyakarta.

Sugguh ironis..aku saja yang mendengarnya seakan merasakan penderitaan yang sedang dialami keluarga korban. Memang tidak bisa dibayangkan perasaan yang berkecamuk, namun sesungguhnya itu semua adalah musibah yang bisa jadi merupakan ujian dan mungkin juga hukuman bagi manusia. Aku jadi teringat Ibunda tercinta yang selalu mengingatkanku untuk selalu berdoa, bertawakal (berserah diri) kepada Allah SWT bila ingin meninggalkan rumah, sehingga apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kita masih dalam lindunganNya. Bahkan beliau menyempatkan diri untuk bertanya,"dah berdoa belum?" dan kujawab dengan senang,"sudahlah Bu..". Pada pertengahan tahun 2003 keluargaku juga pernah mendaptkan ujian dengan terjadinya kecelakaan yang menimpa Ayahku tercinta di daerah Batang, yang menyebabkan paha kanan Ayahku patah dan harus dioperasi di Solo, yang memang terkenal dengan Rumah Sakit tulangnya. Namun, dengan kesabaran dan ketabahan keluarga kami dapat menjalaninya dengan tenang. Semoga bencana yang melanda akhir-akhir ini dapat diambil hikmahnya sehingga dapat menjadi pelajaran yang berharga di waktu yang akan datang, Amin.

Tuesday, March 6, 2007

Lebih Baik Terlambat Sayang....

Sewaktu kecil kita berlatih berjalan dengan panduan orang tua, belum apa-apa udah jatuh aja. Bahkan ketika belajar untuk mengedarai sepeda, lututku sering terluka gara-gara sering terjatuh. Tapi semua itu tidak mengendorkan semangatku untuk terus berusaha berlatih demi sebuah pembelajaran yang berarti. Dan pada akhirnya memang lancar, Alhamdulillah.

Ternyata proses belajar nggak sampai situ aja kan...bahkan ketika mulai memasuki dunia sekolah aku juga harus belajar untuk membaca dan menulis, yang akhirnya sangat membantu sekali dalam pencapaian karirku. Aku masih ingat dengan jelas Bu Eko Umi Marwanti (Almh), ibu guru kelas 1 di SD Penaruban 02 yang pertama kali mengenalkan huruf dan angka di sekolah, selain Ibuku tercinta tentunya yang juga guru agama di SD karangdowo melatih kemapuanku di rumah.

Setelah melewati proses pembelajaran yang panjang,ternyata memasuki dunia kerja pun masih diperlukan insting pembelajaran yang dulu pernah aku alami. Ketidaktekunanku di bangku kuliah untuk memahami dan mengerti tentang ilmu hukum berimbas pada pekerjaanku sekarang. Akhirnya aku harus berusaha untuk belajar mengenai hukum perdata dan hukum-hukum lain yang sangat dibutuhkan untuk menunjang pekerjaanku.

Memang itu terlambat, tapi aku pikir lebih baik terlambat deh dari pada tidak melakukannya sama sekali. Jadi kenapa harus takut untuk belajar lagi?? bahkan ada pepatah dalam Bahasa Arab yang berbunyi: " Uthlubil 'ilma minal mahdi ilal lahdzi" yang artinya "Tuntutlah Ilmu dari buaian sampai liang lahat". Jadi menuntut ilmu pun tidak hanya sampai kita pensiun dari kerja, tapi lebih dari itu, sampai kita dikubur diliang lahat loh...

Ayahku saja yang umurnya sekarang 57 tahun masih belajar komputer, bahkan minta untuk dirakitin komputer untuk di kantornya di PAY Muhammadiyah Weleri. Beliau begitu tertariknya melihat diriku mengotak atik komputer, ketika aku lagi install program pun Beliau sangat antusias memperhatikannya, tapi sayangnya, Beliau tidak bisa bahasa Ingrris sehingga menjadi kendala yang utama untuk menjalankan program di komputer. Tapi kalo masih sekitar proses ketik mengetik mah masih bisalah, iya kan Ayah??... (miss U Ayah..)

Kesabaran di Pagi Hari

Sudah hampir 5 (lima) bulan waktu kuhabiskan di Jakarta, Ibu kota Indonesia, untuk mengais-ngais sebagian dari rizki Allah SWT yang dilimpahkan kepada hambanya setiap waktu.
Meski hanya sebagai paralegal, di sebuah kantor Law firm terkenal di Jakarta, bahkan di Indonesia, aku harus bangun pagi-pagi untuk mempersiapkan segala hal yang berhungan dengan keberangkatan ke kantor dan pekerjaan yang bakal aku jalani. Mulai dari memilih pakaian sampai dengan memasak air hangat untuk mandi, kalau kondisi cuaca di pagi itu dingin.

Pagi ini segala telah dipersiapkan dengan sedemikian rupa sehingga tepat pukul 8.05 wib aku sudah bisa melenggang ke kantor dengan jalur yang biasa dilewati bus Kopaja 66, Blok M - Manggarai. Tidak seperti biasanya, kali ini aku harus mengawali perjalananku dengan berdiri di dalam bus, karena memang aku rada males menunggu bus yang lainnya. Setelah beberapa waktu perjalanan berlalu, akhirnya aku dapat tempat duduk tepat belakang supir bus yang asik memainkan pandanganya ke jalanan, yang dengan santainya memencet klakson berkali-kali untuk membersihkan jalurnya dari mobil-mobil lain yang menghalanginya.

Biasanya sie aku duduk di kursi paling belakang agar mendpatkan sedikit hawa segar dari angin yang masuk melewati pintu belakang, namun karena tempat dudukku yang berada di belakang supir, maka prkatis aku tidk merasakan adanya angin yang menghampiriku. Sesaat aku berusaha untuk menenangkan diri dengan kondisi yang ada (kemacetan), bahkan kadang berfikir untuk membawa motor yang pernah mengantarku memperoleh gelar sarjana (SH) ke Jakarta agar perjalananku ke kantor tidak sesulit saat ini.

Tepat dugaanku, sesmpainya di depan Gedung INDORAMA kemacetan yang panjang telah terlihat. Dalam pikiranku, "wah, pasti nanti aku harus menunggu 6-7 kali lampu merah nie!', berat rasanya harus berlama-lama di bus hanya karena antrean panjang di perempatan Gatot Subroto hanya untuk menunggu giliran mendapatkan berkah dari cahaya lampu yang disebut "Hijau".

Sungguh ironis, kesabaran setiap orang harus diuji untuk mendapatkan berkah dari tuhan melalui segala tetek bengek pekerjaan yang ada di muka bumi ini. Namun berkah-berkah yang ada sungguh telah sedikit ternodai dengan munculnya ego masing-masing untuk saling berebutan jalan satu dengan lainnya, sehingga munculah kesemrawutan yang pada akhirnya menghambat semua pihak.

Coba saja seandainya, setiap pihak paham dan mengerti hak dan kewajibanya dalam menggunakan public property dengan baik tentunya keteraturanlah yang akan ada.