Showing posts with label Orang Hebat. Show all posts
Showing posts with label Orang Hebat. Show all posts

Friday, July 20, 2007

Ultah ABN ke 73

Hari ini, Jumat 20 Juli 2007 The Founder of ABNP berultah yang ke 73. Alhamdulillah, legenda hukum Indonesia ini masih sehat wal 'afiat. Semoga saja beliau dan keluarga selalu dalam lindungan-Nya.

Dalam sambutannya, ABN berpesan "kejujuran adalah segalanya". Jadi, meskipun sebagai lawyer yang banyak orang beranggapan adalah "pembohong", tapi aku pribadi yakin, bahwasanya dalam diri seorang ABN tertanam benih tersebut.

Selamat Ulang tahun Bang Buyung, semoga selalu diberi umur yang bermanfaat bagi sesama dan segala amal kebaikanmu menjadi amal jariyah di sisiNya, Amin.
(fotografernya aku sendiri loh...)

Friday, April 20, 2007

Adnan Buyung Nasution ngundurin diri dari provesi Advokat


Siang ini setelah sholat jum'at, Abang mengumpulkan seluruh karyawan dan lawyer di ruang meeting besar. Abang mengumumkan bahwasanya beliau mengundurkan diri dari dunia advokat karena posisinya sebagai Wantimpres mulai 1 Mei 2007. Tapi beliau bilang, ini maksimal sampai pemilu depan, or mungkin bisa lebih cepat kalo Presiden tidak bersedia menerima saran dan pertimbangannya..hehehe..

Banyak hal yang menjadikan seorang Adnan Buyung Nasution sampai bisa melepaskan profesi advokat yang disandangnya.

Banyak hal juga yang patut di contoh dari mental seorang Adnan Buyung Nasution. Siapa kira saya bisa bertanya langsung dalam situasi santai tentang pertanyaan banyak orang awam 'Kenapa orang salah harus dibela?". Saya juga bertanya" kenapa gak ikut partai, bang?" jwabannya sederhana, ingin bicara sesuai hati nurani...hehehe..

Tapi, gw masih inget betul ketika Rabu lalu beliau di tanya oleh Andy F. Noya dalam ABN profile di Kick Andy (tunggu tayangnya ya) tentang masa lalu beliau di Belanda. Hampir saja beliau menitikkan air mata menceritakan hal itu. Segalanya habis tak tersisa, termasuk rumah mertuanya sendiri, meskipun pada akhirnya tidak jadi dilelang.

Semoga muncul penggantinya yang berani berkata sesuai dengan hati nuraninya.

Tuesday, March 20, 2007

Pesan Terakhir Bagi Generasi Muda Indonesia



Koesnadi Hardjasoemantri

Pengantar;

Sebelum meninggal Lapera memiliki rencana untuk menyusun biografi Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri. Belum sempat kami menuntaskan wawancara untuk keperluan penulisan tersebut, rupanya Tuhan berkehendak lain. Berikut adalah sebagian narasi wawancara sebagai surat terbuka hasil dari wawancara dengan Prof. Koesnadi untuk keperluan penulisan biografi tersebut;

Setiap manusia pasti memiliki pengalaman yang membekas dalam hidupnya, apalagi bagi generasi yang sudah berada di ujung perjalanan seperti saya. Orang tua seperti saya yang dimiliki adalah masa lalu, sedangkan angkatan muda yang dimiliki adalah masa depan. Harapan, begitu psikolog perkembangan berkata untuk menunjuk pada satu tenaga yang luar biasa dari angkatan muda. Bukan berarti orang tua seperti saya tidak punya harapan, justru banyak harapan yang sedang ada dalam hati saya saat ini, salah satunya harapan terhadap angkatan muda. Harapan untuk terus memperbaiki nasib bangsanya yang telah diperjuangkan untuk merdeka. Barangkali banyak orang berkata bahwa saat sekarang lebih baik dari zaman kolonial atau revolusi dulu, karena jalan dan kendaraan sudah sedemikian lancarnya, teknologi telah berkembang sedemikian pesatnya.

Namun bagi negara-negara maju barangkali melihat bangsa ini sangat kasihan karena kemiskinan dan keterbelakangan rakyatnya. Karena sekarang harga-harga melambung tinggi, sekolah mahal, rumah sakit mahal, banyak pengangguran, dan lain sebagainya. Kemudian pertanyaannya: kalau begitu apa makna kemerdekaan yang sesungguhnya kalau toh kemudian rakyat tetap menderita? Apakah semata-mata hanya persoalan harga diri sebagai bangsa yang tidak sudi diperintah bangsa lain? Atau juga menyangkut kesejahteraan rakyatnya lahir dan batin? Bagi bangsa yang baru 62 tahun merdeka, semuanya itu masih menjadi teka-teki yang sangat sulit dipecahkan. Untuk itulah harapan kepada generasi muda saya berikan agar teka-teki tersebut terpecahkan, bukan hanya merdeka secara dalam arti politik, tetapi juga merdeka yang sebenar-benarnya. Tidak ada lagi kemiskinan, tidak ada lagi orang kesulitan sekolah karena biaya mahal, tidak ada lagi anak-anak sekolah di bawah jembatan tol sementara para pejabat biasa
lewat diatasnya, tidak ada lagi orang gantung diri karena kemiskinannya, dan tidak ada lagi penderitaan lainnya.

Kalau ada orang ketemu saya pada usia ke 80, barangkali tidak akan percaya kalau saya ini dulunya adalah guru tari sampai saya kelas menengah tinggi. Barangkali orang akan berpikir “ah mana mungkin, wong bergerak saja lambat begitu, menjadi guru tari”. Boleh saja tidak percaya pada saya mengenai kemampuan menari, tetapi kenyataannya memang demikian. Bapak saya adalah mentor dari seniman di Tatar Sunda. Bahkan pernah menjabat ketua Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional [BMKN]. Saya sejak kecil telah diperkenalkan dengan berbagai kesenian terbaik dari tanah Sunda, dan saya belajar tari pada seorang guru tari terbaik di tanah Sunda. Masalahnya bukan hanya mengenai kemampuan menari, tetapi yang lebih penting adalah tumbuhnya kecintaan saya terhadap kebudayaan, khususnya kebudayaan rakyat. Setelah saya menjadi mahasiswa, Rektor, Atase Kebudayaan di Belanda, sampai sekarang saya menjadi ketua Akademi Jakarta, didarah daging saya mengalir jiwa kesenian. Kecintaan saya terhadap kesenian tidak bisa dibendung oleh siapapun, karena bagi saya kesenian adalah nafas kehidupan. Orang yang mengenal kesenian dia akan tumbuh menjadi orang yang toleran, karena dalam kesenian ada perlambang kehidupan. Perbedaan sangat dihargai dalam kesenian, karena dengan perbedaan itulah kesenian tumbuh. Bahkan dalam seni baris-berbarispun ada bermacam-macam ekspresi. Saya sangat kagum pada pekerja-pekerja seni di Prambanan atau Tutup Ngisor Magelang, filosofi mereka adalah matipun kalau bisa di panggung. Betapa totalitas menjadi makna dalam mereka berkesenian.

Juga mengenai pendidikan. Ketika saya mendengar di Solok dibentuk Kepanduan Rakyat Indonesia pada Desember 1945, segera di Jakarta saya membentuknya juga pada bulan Januari 1946 dengan membuat bendera dan simbol sendiri. Karena di kepanduanlah orang diperkenalkan pada nilai-nilai kecintaan terhadap sesama. Ketika saya di daerah gerilya sebagai Komandan Tentara Pelajar [TP] Front I Banjarnegara, kami mengajar anak-anak yang tidak sekolah di daerah gerilya supaya mereka tetap dapat belajar. Setelah saya di UGM, saya dan teman-teman membuat program Pengerahan Tenaga Mengajar [PTM] sebagai wujud keprihatinan terhadap keadaan pendidikan di luar Jawa. Ketika awal-awal program tersebut ditawarkan kepada mahasiswa, tidak ada yang berminat mendaftar jadi guru di luar Jawa. Akhirnya saya dengan beberapa kawan kawan sesama mahasiswa berangkat sendiri keluar Jawa untuk memulainya sebagai tenaga pengajar, dan saya memilih Kupang sebagai wilayah paling timur dari program tersebut untuk memulainya. Ini semua membuat kecintaan saya terhadap pendidikan sangat dalam. Kalau saya melihat bagaimana sistem pendidikan sekarang dilaksanakan, saya rasanya sedih sekali. Anak didik sekarang stress dibebani berbagai macam tugas, sehingga ketika dia berangkat sekolah bukannya dengan riang gembira tetapi dengan beban. Di sekolah dia hanya menunggu bel pulang sekolah, begitu setiap hari.

Demikian juga mengenai Kuliah Kerja Nyata [KKN], barangkali hanya sedikit orang yang tahu dari mana saya mendapatkan gagasan mengenai KKN. Kalau dilihat dari latar belakang keluarga saya yang Pengreh Praja, saya sebenarnya masuk jajaran elit keluarga pada strata kolonialisme, maka orang akan mengira bahwa saya akan tumbuh menjadi pribadi yang feodal. Saya yang memiliki gagasan mengenai KKN tersebut sering merasa risau dengan pelaksanaannya sekarang, dimana KKN hanya sekedar formalitas akademik. Padahal saya mencetuskan gagasan KKN berdasarkan pengalaman pribadi saya di mana saya banyak dibantu oleh rakyat, khususnya ketika saya gerilya di pedalaman Jawa Tengah. Tanpa rakyat saya sudah mati ditembak tentara Belanda. Saya banyak ditolong oleh rakyat sekalipun mereka hidup dalam kesulitan, tetapi betapa mereka sangat baik pada kami gerilyawan yang mempertahankan kemerdekaan republik yang masih sangat muda. Kecintaan saya pada rakyat tidak main-main, semua karena pengalaman saya sewaktu hidup, makan, tidur bersama rakyat dalam revolusi fisik. Merekalah gerilyawan yang sesungguhnya. Ini yang mencetuskan gagasan mengenai KKN. Bahwa kita jangan meninggalkan rakyat, sekalipun kita sudah berada dalam wilayah kehidupan yang berbeda. Dulu ketika jaman saya menjabat Rektor UGM, KKN itu masuk dalam Repelita jadi ada dukungan keuangan dari negara. Namun tiba-tiba saja dukungan tersebut di cabut. Saya sebagai rektor tetap mempertahankan KKN dengan cara membuat tabungan KKN. Kalau mahasiswa membayar biaya KKN dalam satu kali sekaligus terasa berat, maka saya membuat mereka menabung setiap semester yang dibayarkan bersama SPP. Kalau universitas lain begitu dukungan KKN hilang, maka kemudian juga program KKN tidak dilanjutkan. Bagi saya tidak, harus tetap melanjutkan program ini untuk melatih mahasiswa mengenal dan mencintai rakyatnya. Kalau mereka menjadi sarjana jangan sampai mereka meninggalkan rakyat.

Kadang-kadang saya terharu kalau diadakan pertemuan teman-teman, khususnya eks gerilyawan Tentara Pelajar [TP]. Mereka umumnya sudah tua-tua, dan setiap bertemu pasti jumlahnya berkurang karena meninggal. Mereka merasa orang yang tersingkir dari pergaulan bangsanya. Sering mereka bertanya pada saya, “Apa yang dapat saya sumbangkan untuk bangsa ini sementara saya sudah renta begini?” Saya jawab supaya mereka berbuat sesuatu bagi lingkungan terdekatnya. Mereka kan anggota masyarakat, mereka bisa saja memberi nasehat supaya orang toleran. Barangkali mereka berpikir bahwa dulu berjuang bukan untuk melihat bangsanya seperti ini, tersekat-sekat oleh berbagai kepentingan sempit. Tapi itulah, kadangkala kita punya harapan yang berbeda dengan kenyataan. Saya sendiri bersyukur masih dipercaya untuk menduduki berbagai jabatan dalam organisasi. Ini anugerah yang luar biasa bagi saya secara pribadi.

Saya sendiri masih diberi usia yang cukup panjang untuk ukuran orang Indonesia, 80 tahun. Walaupun beberapa kali saya hampir tertembak oleh musuh dalam beberapa kali kesempatan bentrok senjata waktu jaman revolusi, namun Alhamdulillah saya sampai sekarang masih sehat. Saya percaya bahwa kematian itu adalah milik Yang Kuasa. Tiga kali saya merasakan bahwa nyawa saya bisa saja melayang, namun karena kuasaNya semua tidak terjadi pada saya. Untuk itulah saya tahu ada kekuasaan diluar nalar sebagai manusia.

Saya adalah bagian dari manusia Indonesia yang memiliki pengalamannya sendiri. Mempelajari sebuah bangsa pada hakekatnya juga mempelajari manusianya, karena bangsa itu terbentuk dari imajinasi manusia yang hidup di dalamnya. Karena saya lahir lebih dulu, supaya bangsa ini memiliki ingatan tentang dirinya sendiri kiranya perlu untuk menuliskan salah satu perjalanan hidup manusia yang tinggal di dalamnya.

Sebagai manusia kiranya rasa syukur perlu senantiasa dipanjatkan terhadap Sang Pencipta. Tentu rasa syukur tidak terhingga saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah mengaruniakan umur yang panjang untuk ukuran orang Indonesia yang disertai dengan kesehatan. Banyak orang mengatakan bahwa ketahanan fisik saya sampai sekarang tetap prima walaupun sudah 80 tahun, ini semua hanya semata-mata dari-Nya. Bagi saya kalau masih diberi kesempatan untuk tetap menghirup nafas maka berarti kewajiban untuk mengabdi masih tersedia. Untuk itulah saya selalu mengucapkan syukur atas segala sesuatu yang terjadi pada tubuh yang semakin renta ini.

Tentu saja saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah mewarnai hidup saya sepanjang usia saya. Sangat banyak seandainya disebutkan nama-nama yang begitu baik, untuk itu saya tidak akan menyebutkannya satu namapun. Sebagai makhluk sosial sudah sepantasnya kita bergaul, bekerja bersama dan memberikan kepercayaan kepada setiap manusia. Disitulah hakekat kemanusiaan menurut saya, manusia yang tidak dapat hidup sendiri dalam keterasingan.


Dinarasikan oleh Himawan Pambudi
Ketua LAPERA Indonesia
Pesan Terakhir Bagi Generasi Indonesia;

Friday, March 9, 2007

Terlambat Mengenal Mr. Lopa


Dalam menegakkan hukum dan keadilan, Lopa, jaksa yang hampir tidak punya rasa takut, kecuali kepada Allah. Dia, teladan bagi orang-orang yang berani melawan arus kebobrokan serta pengaruh kapitalisme dan liberalisme dalam hukum. Sayang, suratan takdir memanggil Jaksa Agung ini tatkala rakyat membutuhkan keberaniannya. Tetapi dia telah meninggalkan warisan yang mulia untuk menegakkan keadilan. Dia mewariskan keberanian penegakan hukum tanpa pandang bulu bagi bangsanya.

Ketika menjabat Jaksa Tinggi Makassar, ia memburu seorang koruptor kakap, akibatnya ia masuk kotak, hanya menjadi penasihat menteri. Ia pernah memburu kasus mantan Presiden Soeharto dengan mendatangi teman-temannya di Kejaksaan Agung, di saat ia menjabat Sekretaris Jenderal Komnas HAM. Lopa menanyakan kemajuan proses perkara Pak Harto. Memang akhirnya kasus Pak Harto diajukan ke pengadilan, meskipun hakim gagal mengadilinya karena kendala kesehatan.

Lopa dan Bismar Siregar merupakan contoh yang langka dari figur yang berani melawan arus. Sayang Lopa sudah tiada dan Bismar sudah pensiun. Tetapi mereka telah meninggalkan warisan yang mulia kepada rekan-rekannya. Tentu untuk diteladani.

Baharudin Lopa meninggal dunia pada usia 66 tahun, di rumah sakit Al-Hamadi Riyadh, pukul 18.14 waktu setempat atau pukul 22.14 WIB 3 Juli 2001, di Arab Saudi, akibat gangguan pada jantungnya.

Lopa, mantan Dubes RI untuk Saudi, dirawat di ruang khusus rumah sakit swasta di Riyadh itu sejak tanggal 30 Juni. Menurut Atase Penerangan Kedubes Indonesia untuk Arab Saudi, Joko Santoso, Lopa terlalu lelah, karena sejak tiba di Riyadh tidak cukup istirahat.

Lopa tiba di Riyadh, 26 Juni untuk serah terima jabatan dengan Wakil Kepala Perwakilan RI Kemas Fachruddin SH, 27 Juni. Kemas menjabat Kuasa Usaha Sementara Kedubes RI untuk Saudi yang berkedudukan di Riyadh. Lopa sempat menyampaikan sambutan perpisahan.

Tanggal 28 Juni, Lopa dan istri serta sejumlah pejabat Kedubes melaksanakan ibadah umrah dari Riyadh ke Mekkah lewat jalan darat selama delapan jam.

Lopa dan rombongan melaksanakan ibadah umrah malam hari, setelah shalat Isya. Tanggal 29 Juni melaksanakan shalat subuh di Masjidil Haram. Malamnya, Lopa dan rombongan kembali ke Riyadh, juga jalan darat.

Ternyata ketahanan tubuh Lopa terganggu setelah melaksanakan kegiatan fisik tanpa henti tersebut. Tanggal 30 Juni pagi, Lopa mual-mual, siang harinya (pukul 13.00 waktu setempat) dilarikan ke RS Al-Hamadi.

Presiden KH Abdurahman Wahid, sebelum mengangkat Jaksa Agung definitif, menunjuk Soeparman sebagai pelaksana tugas-tugas Lopa ketika sedang menjalani perawatan. Penunjukan Soeparman didasarkan atas rekomendasi yang disampaikan Lopa kepada Presiden. Padahal Lopa sedang giat-giatnya mengusut berbagai kasus korupsi.

Sejak menjabat Jaksa Agung, Lopa memburu Sjamsul Nursalim yang sedang dirawat di Jepang dan Prajogo Pangestu yang dirawat di Singapura agar segera pulang ke Jakarta. Lopa juga memutuskan untuk mencekal Marimutu Sinivasan. Namun ketiga konglomerat “hitam” tersebut mendapat penangguhan proses pemeriksaan langsung dari Wahid, alias Gus Dur.

Lopa juga menyidik keterlibatan Arifin Panigoro, Akbar Tandjung, dan Nurdin Halid dalam kasus korupsi. Gebrakan Lopa itu sempat dinilai bernuansa politik oleh berbagai kalangan, namun Lopa tidak mundur. Lopa bertekad melanjutkan penyidikan, kecuali ia tidak lagi menjabat Jaksa Agung.

Sejak menjabat Jaksa Agung, 6 Juni 2001, menggantikan Marzuki Darusman, Lopa bekerja keras untuk memberantas korupsi. Ia bersama staf ahlinya Dr Andi Hamzah dan Prof Dr Achmad Ali serta staf lainnya, bekerja hingga pukul 23.00 setiap hari.

Penghormatan terakhir
Jenazah Lopa disemayamkan di Kejaksaan Agung untuk menerima penghormatan terakhir. Soeparman yang mengenal Lopa sejak lama, menilai seniornya sebagai seorang yang konsisten dalam penegakan hukum, sangat antikorupsi, sederhana, dan selalu berusaha agar orang-orang yang berada di sekitarnya bersih.

Meski menjabat Jaksa Agung hanya 1,5 bulan, Lopa berhasil menggerakkan Kejaksaan Agung untuk menuntaskan perkara-perkara korupsi. Karena itu jajaran kejaksaan merasa sangat kehilangan.

Ajudan Lopa, Enang Supriyadi Samsi kaget ketika mendengar kabar kepergian Lopa, karena ia tahu Lopa jarang sakit, apalagi sakit jantung. Kalaupun dirawat di rumah sakit lantaran kelelahan, soalnya ia pekerja keras.

Kalimat kunci dari Lopa yang tidak pernah dilupakan Enang, “kendatipun kapal akan karam, tegakkan hukum dan keadilan.”

Soeparman dipanggil Presiden Gus Dur ke Istana Negara, Senin, menunjuknya sebagai pelaksana tugas Jaksa Agung. Tidak ada arahan khusus dari Presiden. “Laksanakan tugas, lanjutkan apa yang sudah dan akan dilakukan Pak Lopa”. Hanya itu pesan Gus Dur. Soeparman adalah Doktor Ilmu Hukum Pidana Perpajakan, UI.

Saat itu Lopa masih dirawat, belum meninggal dunia. Dengan demikian Keppres penunjukan Soeparman mengundang tanda tanya publik. Memang Wakil Jaksa Agung otomatis mengambil alih tugas-tugas atasannya bilamana yang bersangkutan berhalangan.

Keppres serupa pernah dikeluarkan Pak Harto ketika mengangkat Singgih sebagai pelaksana tugas-tugas Jaksa Agung Sukarton yang meninggal dunia.


Warisan Lopa
Kepergian Lopa sangat mengejutkan, meninggal ketika ia menjadi tumpuan harapan rakyat yang menuntut dan mendambakan keadilan. Sejak menjabat Jaksa Agung (hanya 1,5 bulan), Lopa mencatat deretan panjang konglomerat dan pejabat yang diduga
terlibat KKN, untuk diseret ke pengadilan.

Ketika menjabat Menteri Kehakiman dan HAM, ia menjebloskan raja hutan Bob Hasan ke Nusakambangan. Ktegasan dan keberaniannya jadi momok bagi para koruptor kakap.

Menurut Andi Hamzah, sebelum bertolak ke Arab Saudi, Lopa masih meninggalkan beberapa tugas berat. Kepergian Lopa untuk selamanya, memang membawa dampak serius bagi kelanjutan penanganan kasus-kasus korupsi.

Banyak perkara yang sedang digarap tidak jelas lagi ujung pangkalnya. Banyak masih dalam tahap pengumpulan bukti, sudah ada yang selesai surat dakwaan atau sudah siap dikirim ke pengadilan. Banyak perkara yang tertahan di lapis kedua dan ketiga.

Akbar sendiri, meski termasuk tokoh politik yang diburu Lopa, mendukung langkah penegakan hukum yang diprakarsai Lopa. “Kita merasa kehilangan atasas kepergian Lopa.”

Pengacara yang membela banyak kasus korupsi, Mohammad Assegaf, menyayangkan Lopa melangkah pada waktu yang salah.
He’s the right man in the wrong time. Karena itu ia kehilangan peluang untuk melakukan pembenahan.

Pengamat hukum JE Sahetapy menginginkan kelanjutan pengungkapan kasus-kasus korupsi, meski Lopa sudah tiada. Kata Sahetapy, the show must go on.

Lopa sendiri sudah punya firasat, tugasnya selaku Jaksa Agung takkan lama. Banyak orang mengaitkannya dengan masa jabatan Gus Dur yang singkat. Tetapi masa bhakti Lopa jauh lebih singkat.
Ia sudah merasa bahwa langkah yang dimulainya akan memberatkan penerusnya.

Anak Dusun
Barlop, demikian pendekar hukum itu biasa dipanggil, lahir di rumah panggung berukuran kurang lebih 9 x 11 meter, di Dusun Pambusuang, Sulawesi Selatan, 27 Agustus 1935. Rumah itu sampai sekarang masih kelihatan sederhana untuk ukuran keluarga seorang mantan Menteri Kehakiman dan HAM dan Jaksa Agung. Ibunda pria perokok berat ini bernama Samarinah. Di rumah yang sama juga lahir seorang bekas menteri, Basri Hasanuddin. Lopa dan Basri punya hubungan darah sepupu satu.

Keluarga dekatnya, H. Islam Andada, menggambarkan Lopa sebagai pendekar yang berani menanggung risiko, sekali melangkah pantang mundur. Ia akan mewujudkan apa yang sudah diucapkannya. Memang ada kecemasan dari pihak keluarga atas keselamatan jiwa Lopa begitu ia duduk di kursi Jaksa Agung. Ia patuh pada hukum, bukan pada politik.

Lopa menerima anugerah Government Watch Award (Gowa Award) atas pengabdiannya memberantas korupsi di Indonesia selama hidupnya. Simboliasi penganugeragan penghargaan itu ditandai dengan Deklarasi Hari Anti Korupsi yang diambil dari hari lahir Lopa pada 27 Agustus.

Lopa terpilih sebagai tokoh anti korupsi karena telah bekerja dan berjuang untuk melawan ketidakadilan dengan memberantas korupsi di Indonesia tanpa putus asa selama lebih dari 20 tahun. Almarhum Lopa, katanya, adalah sosok abdi negara, pegawai negeri yang bersih, jujur, bekerja tanpa pamrih, dan tidak korup.

Menurut Ketua Gowa Farid Faqih, korupsi di Indonesia telah menyebabkan kebodohan dan kemiskinan bagi seluruh rakyat, tidak mungkin diatasi jika pihaknya, lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, militer, dan pimpinan parpol tetap melakukan korupsi. Karena itu perlu dimulai hidup baru melalui gerakan moral dan kebudayaan untuk memberantas korupsi.

Istri Lopa, Indrawulan, telah memberi contoh kesederhanaan istri seorang pejabat. Watak keras dan tegas suaminya tidak dibuat-buat. Karena itu, ia berusaha sedapat mengikuti irama kehidupan suaminya, mendukungnya dan mendoakan bagi ketegaran Lopa.

Lopa telah tiada. Memang rakyat meratapi
kepergiannya. Tetapi kepergian Lopa merupakan blessing in disguise bagi para koruptor dan penguasa yang enggan menindak kejahatan korupsi.

***
Dalam usia 25, Baharuddin Lopa, sudah menjadi bupati di Majene, Sulawesi Selatan. Ia, ketika itu, gigih menentang Andi Selle, Komandan Batalyon 710 yang terkenal kaya karena melakukan penyelundupan.

Lopa pernah menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi di Sulawesi Tenggara, Aceh, Kalimantan Barat, dan mengepalai Pusdiklat Kejaksaan Agung di Jakarta. Sejak 1982, Lopa menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. Pada tahun yang sama, ayah tujuh anak itu meraih gelar doktor hukum laut dari Universitas Diponegoro, Semarang, dengan disertasi Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan yang Digali dari Bumi Indonesia.

Begitu diangkat sebagai Kajati Sulawesi Selatan, Lopa membuat pengumuman di surat kabar: ia meminta masyarakat atau siapa pun, tidak memberi sogokan kepada anak buahnya. Segera pula ia menggebrak korupsi di bidang reboisasi, yang nilainya Rp 7 milyar. Keberhasilannya itu membuat pola yang diterapkannya dijadikan model operasi para jaksa di seluruh Indonesia.Dengan keberaniannya, Lopa kemudian menyeret seorang pengusaha besar, Tony Gozal alias Go Tiong Kien ke pengadilan dengan tuduhan memanipulasi dana reboisasi Rp 2 milyar. Padahal, sebelumnya, Tony dikenal sebagai orang yang ''kebal hukum'' karena hubungannya yang erat dengan petinggi. Bagi Lopa tak seorang pun yang kebal hukum.

Lopa menjadi heran ketika Majelis Hakim yang diketuai J. Serang, Ketua Pengadilan Negeri Ujungpandang, membebaskan Tony dari segala tuntutan. Tetapi diam-diam guru besar Fakultas Hukum Unhas itu mengusut latar belakang vonis bebas Tony. Hasilnya, ia menemukan petunjuk bahwa vonis itu lahir berkat dana yang mengalir dari sebuah perusahaan Tony.

Sebelum persoalan itu tuntas, Januari 1986, Lopa dimtasi menjadi Staf Ahli Menteri Kehakiman Bidang Perundang-undangan di Jakarta. J. Serang juga dimutasi ke Pengadilan Tinggi Sulawesi Selatan. dari berbagai sumber


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Thursday, March 8, 2007

Mengenal di Akhir....(???)


Pagi ini sesampainya di kantor langsung aku duduk di mejaku untuk membuka berita-berita online seputar terbakarnya pesawat GIA di bandara Adi SUcipto, Yogyakarta. Diantara para korban tewas ada seorang mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, yang juga ahli dalam hukum lingkungan.

Setelah beberapa saat kucermati "ahli hukum lingkungan", ingatanku langsung tertuju pada buku tebal hijau yang pernah aku cari-cari di Perpustakaan Daerah Semarang untuk mengerjakan tugas Hukum Lingkunganya Pak Untung. Iya...bener itu orangnya yang buat buku kan....

Bahkan aku tau itu buku rujukan Hukum Lingkungan juga dari Rara yang saat itu kebetulan juga lagi ambil mata kuliah yang sama.

Tidak hanya kali aku selalu merasa terlambat untuk lebih mengenal seseorang, bahkan ketika Cak Nur meninggalpun rasanya aku telah kehilangan seorang guru yang belum sempat mengajarkan secara langsung kepadaku tentang ilmu-ilmu yang dikuasainya.

Tapi "idza ja'a 'ajaluhum la yasta'khiruna sa'atan aw yasta'dimun". Semoga jasa-jasa beliau dalam memberikan ilmunya kepada murid, mahasiswa dan masyarakat menjadi amal jariah yang tak terputus, Amin.

Selamat Jalan Bapak Ahli Hukum Lingkungan......Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri.