Showing posts with label kebahagiaan. Show all posts
Showing posts with label kebahagiaan. Show all posts

Monday, December 14, 2009

Kesederhanaan Kunci Kebahagian

Setiap bentuk kejadian dalam hidup, saya yakini, selalu menghadirkan makna. Saya mensyukuri sekali kehidupan yang bergerak perlahan dari tataran yang sangat bawah. Tatkala hidup dengan makan sangat pas-pasan, selalu terbayang enaknya makan dengan daging yang memadai. Tatkala mengekos di Jakarta dengan kondisi yang sangat panas, rasanya nikmat sekali kalau mampu membeli rumah sendiri walau masih berpanas-panasan. Ketika berpanas-panasan dan bergelantungan di dalam bis kota, sepertinya nikmat sekali kalo bisa memiliki mobil pribadi.

Sekarang, meski masih seperti ini, tidak hanya rasa syukur yang teramat sering saya ucapkan ke Tuhan, tetapi kepala otomatis merunduk ketika menemui orang-orang dengan tingkatan kehidupan di bawah. Ada godaan untuk selalu menolong, bila ada kemampuan untuk melakukannya. Dan yang paling penting, pengalaman meniti tangga kehidupan dari bawah, membuat saya sering ingat akan pentingnya kesederhanaan hidup.

Menurut guru meditasi, Gede Prama, kesederhanaan berfikir dan kesederhanaan hidup itu penting dalam hidup ini, karena ia yang bisa menjadi jembatan yang memadai antara rezeki dan keinginan. Rezeki, sebagaimana kita tahu mengenal batas-batas. Sedangkan keinginan di pihak lain seperti langit, tidak ada batasnya.

Kesederhanaan bisa menjadi jembatan dalam hal ini, karena bisa menjadi ‘manajer’ bagi sang diri. Ia yang memilih mana yang betul-betul perlu, dan mana yang hanya pelengkap saja. Ia yang memisahkan keinginan yang diwarnai egoisme, dengan keinginan yang perlu dipenuhi.

Tidak sedikit keluarga pewaris saham perusahaan besar, yang selama hidupnya berkelahi tiada hentinya. Ditandai oleh banyaknya segi tiga kebencian. Kecurigaan terhadap setiap anggota keluarga. Digabung menjadi satu, kekayaan yang dikumpulkan secara susah payah oleh generasi pendahulu, tidak membuat hidup lebih mudah, malah sebaliknya membuat semuanya jadi sengsara.

Orang yang kaya materi, tidak sedikit yang menyesali hidupnya. Jarang berkata syukur ke Tuhan. Sejumlah kekayaan yang diwariskan orang tua mereka, kerap malah membuat kehidupan penuh perkelahian, kebencian dan perselisihan.

Memang, ada banyak sebab yang bersembunyi di balik fenomena ini. Namun, satu hal pasti, ketidakmampuan untuk hidup dan berfikir sederhana, telah membawa mereka pada lautan kehidupan yang penuh dengan tekanan.

Wednesday, November 25, 2009

Persembahan Untuk Ayah dan Ibu Tercinta

Tentu kita tidak pernah ingat bagaimana dulu kita di dalam rahim Ibunda tercinta. Wahnan 'ala wahnin. Ibu mengandung dengan beratnya selama kurang lebih sembilan bulan. Belum lagi hari-hari beliau yang selalu harus membawa beban kita diperutnya yang semakin hari semakin membengkak. Tiap malam harus terbangun karena terjadi tonjokan-tonjokan kecil yang menggelikan (bener gak sih?)

Ayah, betapapun tidak pernah merasakan mengandung, tapi peran beliaupun tidak kalah penting dalam menjaga kandungan Ibunda. Terkadang Ibu kita waktu mengandung temperamennya meninggi dan Ayah pulalah yang akan jadi sasarannya. Melayani wanita hamil yang sedang ngidam sesuatu adalah hal tersulit yang selalu diceritakan para Bapak-bapak yang istrinya sedang hamil. Harus pontang panting memberikan yang terbaik yang diingikan istrinya. Kepuasan akan terasa begitu istrinya terlihat kembali segar dan bahagia..hehehe..

Mungkin itu juga yang dulu dialami Ibu dan Ayahku tercinta. Bagaimana harus menjalani kehamilan pertama kakakku yang mana itulah adalah kehamilan yang pertama (mungkin sekarang kakaku sudah bisa menjawabnya), dan ayah harus menjaga tiap saat dengan berbagai kekhawatirannya (sekarang jatahnya abangku yang jawab nie..semoga mbak neni sehat selalu). Dengan kondisi yang serba masih belum stabil, baik sandang maupun pangan, harus ngekos serumah dengan yang punya rumah. Tidak bebas layaknya hidup mandiri d rumah sendiri. Selanjutnya untuk kehamilan abangku dan aku sendiri mungkin Ibu dan Ayahku sudah punya strategi tersendiri untuk mengatasinya..hehehe..mantabbzz..

Semua cerita di atas tidak akan dapat diceritakan untuk anak cucunya seandainya tanggal 27 November, 32 tahun yang lalu ayahku tidak jadi mengucapkan akad nikah untuk ibuku dihadapan penghulu dan walinya. Syukurlah akhirnya kata-kata sakti itu muncul dari bibir Ayahku untuk mempersunting Ibuku tercinta dan hingga saat ini keluarga kami selalu dalam kebahagian. Dan itu menjadi kado ulang tahun terindah bagi ibuku pada ulang tahunnya yang ke 24 (so sweet ya..) Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahnya bagi keluarga kami, selalu dalam lindunganNya.

Selamat Ulang Tahun Ibu,, semoga seiring bertambahnya umur, Ibu selalu dalam lindunganNya. Kesehatan dan keselamatan senantiasa menaungi. Semoga putra putrimu juga dapat memberikan kebahagian yang belum pernah tercapai selama ini. Amin.

Selamat Ulang Tahun Perkawinan untuk Ayah dan Ibuku tercinta.. semoga kebahagiaan dalam keluarga dapat terjaga selamanya. Doakan anakmu yg paling bontot ini segera memberikan cucu ya,,,hehehe.. Amin..