Showing posts with label perhatian anak. Show all posts
Showing posts with label perhatian anak. Show all posts

Sunday, September 13, 2009

Hadiah cinta seorang ibu (Resonansi-Suara Merdeka)

"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan napasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.

Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.

"Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, "Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia," kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.

Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."

Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah.... bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. "Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?"

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.

Friday, January 25, 2008

Yakin Usaha Sampai,,,,,,

Tak terasa,,,, setelah lepas kontrak kerja dari ABNP Law Firm di awal September 2007, ketakutan akan menjadi pengangguran terngiang di otakku. Dengan tabungan yang seadanya, tentunya menjelang berakhirnya kontrak tidak banyak yang bisa kulakukan selain terus berkirim lamaran kerja kesana-kemari, namun sayang, dari puluhan lamaran yang kukirim, tak satupun yang ditanggapi.

Setelah habis kontrak, kuniatkan diri ini untuk belajar TOEFL selama Ramadhan di Semarang, sembari merelaksasi dari kepenatan kota Jakarta, meskipun hati rada gundah dengan kondisi saat itu. Namun apalah daya kan,,, usaha untuk mengirim lamaran tetap aku jalani, bahkan mungkin saking seringnya ke Warnet sampe kenal ma penjaganya.

Tak terasa, lebaranpun datang,,, dengan uang pas-pasan, tentunya aku tidak berani belanja untuk keperluan menyambut lebaran, meskipun Ayahku dengan senang hati akan memberi bantuan jikalau aku ingin pakaian baru di hari nan Fitri tersebut. Tapi, sepertinya aku sudah tidak layak untuk dikasihani, begitu juga dibiayai. Kalupun ingin, maka aku berusaha mengaggap uang dari orang lain sebagai pinjaman, dan akan kukembalikan nanti setelah aku bekerja kembali.

Puas juga sie selama menjadi pengangguran, coz aku dah bisa silaturahmi ke tempat temen-temen yang lama tak aku kunjungi, termasuk jalan-jalan ke Surabaya, ondangan ke tempat Belindo, dan juga kondangan ke Tempat Gega di Kediri. Bahkan aku sempet berkunjung ke Lamongan, rumahnya Rosyad, juag ke rumahnya Fadholi beserta istrinya di desanya.

Masih teringat jelas, bagaimana ayahku membantuku mengirim beberapa lamaran untuk PNS yang kebetulan tahun 2007 ini rame bukaan lowongan. Nothing to loose to send some application ke Beberapa Departemen, namun tetap saja males euy...

Hari itu Sabtu, tanggal 10 November 2007, ketika aku membaca rubrik Karir di Kompas. Ada beberapa perusahaan telekomunikasi yang mempublikasikan kebutuhan mereka akan karyawan baru, namun posisi legal yang sesuai bidangku tidak ada satupun. Dengan sedikit keisengan dan mohon keberuntungan ALLah SWT, kukirim satu lamaran ke hrd@moratelindo.co.id yang dalam telingaku sie tidak begitu greget dalam dunia telekomunikasi, coz selama ini yang aku tahu cuman Telkomsel, Indosat, XL dll yang besar-besar.

Tapi tak apalah,namanya juga iseng kan Mal,,,,
Ternyata memang ini keberuntunganku,, inilah tempat dimana aku mengais rejeki.